Penafsiran Surat Al-Hujurāt Ayat 6 tentang Tabayyun dalam Perspektif Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed
Abstract
Al-Quran adalah kalam yang hidup dalam kurun lebih dari 150 abad, eksistensinya telah sukses menginspirasi tatanan global. Surat Al-Hujurāt ayat 6 merupakan salah satu ayat suksesor tersebut yang berisi instruksi tabayun berkaitan dengan naba yang diterima dari fāsiq. Namun, konstruksi naba saat masa Al-Qur`an diturunkan dengan zaman saat ini jauh berbeda karena adanya globalisasi informasi dan teknologi. Tulisan ini berupaya menkomparasi konstruksi naba untuk meneliti konsepsi fāsiq dan makna tabayun bagi penerima pertama saat Al-Qur`an diturunkan dan untuk konteks masa kini, dengan menggunakan metode kepustakaan kualitatif deskriptif berlandaskan pada pendekatan teori tafsir kontekstual Abdullah Saeed. Bagi sahabat sebagai penerima pertama yang memiliki ẓauqun ṣālih, tabayyun dapat dimaknai dan diaplikasikan secara langsung, mereka dapat berkonsultasi langsung kepada Rasulullah saat menemukan permasalahan. Untuk konteks saat ini, perlu adanya konsepsi atas inisialisasi fāsiq yang mana konstruksi naba saat ini tidak hanya dijalankan oleh manusia namun juga oleh program-program teknologi, hal ini dapat berdampak pada makna dan implementasi tabayun dalam surat Al-Hujurāt ayat 6 sebagai ayat proteksional.



